berita smait

Mudik dan Romantisme di Kampung Halaman

11 Mei 2022 | 08:48/kiswanto

Mudik dan Romantisme di Kampung Halaman

Oleh: Kiswanto, S.Pd (Guru Sosiologi SMA IT Bina Amal)

Masyarakat mendapat kabar baik dari pemerintah terkait izin mudik Idul Fitri 1443 H / 2022. Mudik kali ini dibarengi dengan berbagai macam aturan yang menyertainya. Salah satu yang menjadi syarat mutlak adalah mereka yang mau mudik harus sudah vaksin sampai tahap / dosis ketiga (Booster). Selama dua kali musim mudik Idul fitri sejak 2020 hingga 2021 memang Pemerintah dalam hal ini Presiden melarang masyarakat mudik ke kampung halaman untuk mencegah penularan Covid-19 di daerah.

Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo menyampaikan kalau masyarakat yang mau mudik dipersilahkan dan diperbolehkan. Dikutip dari Kompas.com, 23 Maret 2022. Pernyataan tersebut memantik warga yang berada di perantauan untuk beramai-ramai mudik ke kampung halaman. Pasalnya, dua tahun sebelumnya pemerintah melakukan kebijakan melarang warga melakukan aktifitas keluar kota secara berjamaah dengan alas an mencegah penyebaran virus Covid-19. Di Ramadhan tahun ini pemerintah sudah membuka kran lalu lintas darat, laut dan udara untuk mendukung aktifitas arus mudik dan arus balik warga.

Sosiologi memandang fenomena mudik ini sebagai salah satu bentuk solidaritas organik. Sebagaimana disampaikan sosiolog ternama Emile Durkheim (1859-1917). Ia mengatakan “Mudik bisa menjadi salah satu jalan melanggengkan solidaritas organik itu Ketika masyarakat sebelum dan sesudah hari raya sibuk dengan urusan masing-masing yang bisa saling melupakan. Momen mudik biasanya dijadikan ajang untuk melepas rindu, bercerita dan saling memberikan motivasi serta menganyam benang-benang silahturahim yang terurai.

Mudik merupakan warisan Sosio Kultural yang akan terus terjaga sampai kapanpun. Pewarisan tradisi ini sangat massif dan cenderung mengasyikkan karena setiap mudik mereka melintasi berbagai daerah yang memiliki ciri khas masing-masing. Sementara itu, secara terminologi, mudik berasal dari kata Udik yang artinya kampung atau desa. Jadi arti secara umum, mudik berarti pulang ke daerah asal, sementara menurut Kamus Bahasa Indonesia WJS Poerwodarminta (1976) adalah pulang ke kampung halaman Ketika / berbarengan saat idul fitri (lebaran).

Satu pertanyaan yang mungkin ada dibenah kita, Mengapa orang Indonesia hamper tiap tahun melakukan mudik atau pulang kampung? Padahal sudah ada sarana atau fasilitas untuk menjalin silahturahim antar daerah (virtual). Secara umum saya melihat ada beberapa hal yang mendasari mereka untuk tetap melakukan mudik. Pertama, Sarana berbakti kepada orang tua, kerabat dan saudara serta sebagai momen untuk mendapat restu agar aktifitas di perantauan lancer dan berkah. Kedua, Healing atau terapi secara psikologi. Ketiga, sebagai sarana untuk wisata sejenak dari aktifitas yang padat di Kota. Keempat, mengenang masa kecil di kampung halaman dan Kelima, Sebagai sarana untuk menunjukkan atas keberhasilannya di tempat mereka bekerja dan beraktifitas.

Berbagai hal mendasar diatas itulah yang mengakibatkan hampir tiap tahun gelombang manusia yang melakukan mudik tak dapat dibendung. Karena memang ritual sosial tersebut banyak irisannya dan tidak bisa kalau hanya dilihat dari satu sisi saja. Saat kondisi pandemi beberapa waktu lalu saja, banyak ditemukan orang nekat mudik agar dapat sampai ke kampung halamannhya. Ada yang keluar rumahnya saat tengah malam, ikut kendaraan angkutan barang atau pulangnya lebih awal jauh sebelum Idul Fitri. Hal ini semata-mata demi ketemu orang yang mereka cintai dan hormati yakni orang tua. Semoga tahun ini dan kedepannya, mudik yang dilakukan Sebagian warga Indonesia aman,nyaman serta selamat sehingga dapat berkumpul dengan anggota keluarga serta kerabat di kampung halaman. Selamat Mudik.

 

Bagikan ke sosial media



Assalamualaikum.
Ada yang bisa kami bantu.